Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

25 Feb 2021

Ide Kegiatan Bersama Anak Di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan kehidupan kita. Hampir semua kegiatan harus dilakukan di rumah. Bekerja, sekolah bahkan beribadah pun harus dilakukan dari rumah. Tempat-tempat umum banyak yang ditutup. Aktivitas kita jadi sangat terbatas. Keluar rumah hanya jika ada keperluan yang sangat mendesak saja.

Pemerintah juga menghimbau agar kita melakukan social distancing (jaga jarak sosial) ketika berada di luar rumah untuk menghindari meluasnya penyebaran virus corona. Karena penyebaran virus ini sangat cepat, ketika berada di keramaian, untuk itu kita diharuskan menjaga jarak minimal 1 meter.

Kita gak tahu sampai kapan keadaan ini berlangsung. Kita berdoa bersama akan pandemi ini segera berakhir dan hidup kita bisa kembali berjalan normal seperti dulu, sebelum adanya pandemi. Namun apakah kita juga harus melakukan family distancing? Tentu saja jawabannya, TIDAK!

26 Mar 2017

Rasa Cinta Tanah Air Bisa Ditunjukkan Dengan Cara Sederhana Ini, Kok!


“Kalo gak bisa, ya sudah, gak usah main sepeda”, kalimat yang diucapkan seorang ibu kepada anak perempuannya yang masih berusia 2 tahun (sebut saja, Anggun. Bukan nama sebenarnya ^^). Kalimat tersebut diucapkan dengan nada kesal karena Anggun memiliki keinginan tinggi untuk bermain sepeda, tetapi si gadis kecil itu masih kesulitan untuk mengayuh sepeda roda tiganya. Sedang si ibu tidak sabar untuk mengajarkannya. Tanpa disadari, kalimat sederhana ini, ternyata mampu memberi dampak negatif bagi perkembangan psikologis seorang anak di kemudian hari.

1 Sep 2016

Pendidikan Budi Pekerti Itu Penting, Lho!



Budi Pekerti.

Bukan. Ini bukan nama kakak, adik atau sahabat saya. Hihihi ^^

Budi pekerti merupakan standar moral bagi seseorang dalam berpikir, berbicara dan berperilaku. Pendidikan budi pekerti pertama kali diajarkan di lingkungan keluarga. Saya ingat bagaimana ketika kecil, saat menerima sesuatu dari seseorang, saya diingatkan orang tua untuk selalu mengucapkan terima kasih. Saat lewat di depan orang yang lebih tua, mengatakan permisi. Jika memberi atau menerima sesuatu dari seseorang, harus menggunakan tangan kanan. Saat bermain bersama, tidak boleh merebut mainan. Meminta maaf ketika menyakiti teman. Itu beberapa hal yang berhubungan dengan budi pekerti yang diajarkan kepada saya sejak kecil dan terus terngiang hingga saat ini. Saya tidak pernah lupa dengan nasihat tersebut.

29 Agu 2016

Mari Populerkan Kembali Lagu Anak!



Hati-hati dengan hatiku,
Karena hatiku mudah layu
Sepenggal lirik lagu berjudul Cinta Gila dari band Dewa 19 yang dinyanyikan Enol dengan gaya seorang rocker sontak membuat saya syok. “Aduh, dari mana keponakan saya nan imut ini dengar lagu tersebut?” batin saya. Usut punya usut Enol, mendengarnya dari tayangan sinetron di salah satu stasiun televisi swasta.

Suatu ketika Enol sedang asyik bermain skuter dan tidak sengaja menabrak kaki saya. Secara spontan saya mengatakan “Hati-hati, Enol. Kan, sakit.” Dan Enol pun langsung menyanyikan penggalan lagu Sakitnya Tuh Di Sini dari Cita Citata. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala.

Gemar Membaca Menciptakan Generasi Muda yang Kokoh dan Mandiri, Benarkah Begitu?


Ada pepatah mengatakan bahwa “buku adalah jendela dunia”. Ya, melalui buku kita bisa mengetahui banyak hal baru yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya. Bahkan kita bisa mengelilingi dunia ini hanya dengan membaca. Luar biasa, ya! Tokoh-tokoh terkemuka yang ada di muka bumi ini, bisa menjadi orang-orang hebat karena kecintaan mereka pada buku. Mereka memiliki minat baca yang tinggi.

15 Jul 2016

3 Tips Membantu Anak Mengelola Uang Angpau



“Eh, kamu udah nuker uang baru?”
“Astaga! Belum! Untung diingetin.”
“Kebetulan nih, saya mau minta tolong Nasri. Sekalian aja.”
“Boleh, deh. Dari pada nunggu entar-entar, malah kelupaan. Takutnya kehabisan kayak tahun lalu. Keponakan saya sempet protes karena angpaunya udah agak koala kumal.”

22 Jun 2016

Tayangan Yang Baik Untuk Anak



Teman-teman tanya dong, apa acara televisi kesukaan kalian di masa kecil? Kalau saya suka sekali menonton Doraemon bahkan hingga sekarang. Tak ketinggalan mengoleksi komik Doraemon juga. Sebenarnya masih tersedia banyak acara lain yang memang layak untuk ditonton anak. Sebuah tayangan yang baik, tidak hanya sebagai sarana hiburan semata. Namun di dalamnya tetap mengandung pesan moral.

9 Mei 2016

Manfaat Sarapan




Setiap orang tua, pasti menginginkan anaknya tumbuh sehat dan cerdas. Begitu juga saya. Sebagai bibi dari seorang keponakan yang menggemaskan, Eno. Saya sangat peduli dengan tumbuh kembangnya. Eno termasuk anak yang aktif. Namun sedikit sulit makan, seperti umumnya pada anak-anak. Apalagi untuk sarapan. Padahal sarapan sangat penting bagi Eno yang aktif  untuk membantunya beraktivitas. Mulai dari berlari, melompat, bersepeda dan kegiatan fisik lainnya. Eno selalu bersemangat. Luar biasa seperti tidak mengenal kata lelah ^^

27 Apr 2016

Jajan Sehat




Dengan bertambah usianya, Eno mulai mengenal jajan. Padahal sebelumnya Eno tidak peduli jika ada temannya yang jajan. Memang sejak kecil, ibunya tidak membiasakan Eno untuk jajan. Saat bepergian, selalu disiapkan makanan kecil. Namun sejak masuk sekolah TK, Eno mulai tergoda untuk jajan. Saat mengantar atau menjemput Eno, beberapa kali Eno meminta uang untuk membeli jajanan. Saya tidak pernah memenuhi permintaannya. Karena menurut saya, jajanan yang dijual di sekitar sekolah tidak sehat dan kurang terjaga kebersihannya. Sengaja Eno tidak diberikan uang jajan. Sebagai gantinya, disiapkan bekal dari rumah. Dan selalu dibiasakan untuk sarapan sebelum berangkat sekolah.

17 Mar 2016

Rahasia Mewarnai



Jika mendengar kata “mewarnai” maka otak kita akan segera menghubungkannya pada kata “anak”. Ya, mewarnai dan anak ibarat lem dan perangko. Begitu berkaitan erat. Sebelum mengenal huruf dan angka, anak lebih dulu mengenal warna. Anak sangat antusias untuk mengeksplorasi warna yang beraneka ragam. Tahukah teman-teman, melalui aktivitas mewarnai, anak belajar banyak hal. Saat mewarnai, anak tidak hanya sekedar mengoreskan warna warni di atas kertas gambar. Merubah kertas putih menjadi gambar berhias warna ceria khas anak-anak. Penasaran apa saja rahasia mewarnai? Simak, yuks!

15 Mar 2016

Perdengarkan Apa Yang Layak Anak Dengar



Salah seorang murid saya, berkali-kali menyanyikan lagu dewasa sambil tangannya sibuk mengerjakan soal-soal di kertas lembar kerja. Sebuah lagu bergenre dangdut. Lirik lagunya sangat tidak layak bagi anak-anak. Dan sudah beberapa kali juga saya memberitahu bahwa lagu tersebut untuk orang dewasa. Sejenak ia berhenti. Namun tak lama kemudian, spontan ia menyanyikannya kembali. Tak bosan-bosan saya mengingatkan bahwa lirik lagu yang dinyanyikannya itu tidak pantas untuk anak-anak. Ia mengatakan mendengar lagu itu di mobil abudemen. Kendaraan yang mengantar dan menjemputnya sekolah. Miris memang. Anak-anak usia sekolah, tetapi sudah ‘dicekoki” dengan lirik lagu yang tidak pantas untuk perkembangan mereka. Padahal masih banyak lagu anak-anak yang menggunakan bahasa yang lebih santun dan berisi pesan moral. Namun yang terjadi sekarang, anak-anak justru lebih sering diperdengarkan lagu-lagu dewasa. Dan parahnya, banyak kata-kata yang seharusnya tidak untuk dikonsumsi mereka. Sungguh disayangkan.

Tanamkan Rasa Sosial Dengan Aktivitas Bermain


“Ma, aku mau main layang-layang di lapangan, ya.”
“Main di rumah aja. Di luar panas.”
“Tapi, ma. Aku tadi udah janjian sama teman-teman.”
“Ngga boleh. Kan mama udah beliin gadget sesuai permintaan kamu.”
“Uh.”

Mungkin percakapan di atas pernah terjadi diantara para orang tua. Saat anak ingin bermain bersama teman-teman tetapi orang tua tidak memperbolehkan. Oiya, sekedar mengingatkan, dunia anak adalah bermain. Jadi wajar jika sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan bermain. Banyak hal yang anak peroleh saat bermain bersama teman. Melalui bermain bersama, mereka belajar tentang kerjasama, rasa kepedulian, berbagi, sportifitas, dan masih banyak hal positif lainnya.

Permainan ada dua jenis. Permainan tradisional dan permainan modern. Kelereng, layang-layang, petak umpet, gobak sodor, congklak, merupakan beberapa contoh permainan tradisional. Sedangkan permainan modern, misalnya Play Station, gadget, game online. Namun sayangnya, permainan tradisional sudah mulai jarang dimainkan. Permainan tradisional perlahan mulai hilang, terutama di daerah perkotaan. Saat ini permainan anak didominasi oleh permainan modern, yang kebanyakan jenis permainannya dapat dilakukan seorang diri. Padahal permainan tradisional tak kalah seru, lho. Melalui permainan tradisional, anak diajak untuk bermain bersama. Sangat baik bagi perkembangan aspek sosialnya. Jika terlalu sering bermain gadget, kecenderungan dalam diri anak akan terbentuk sikap individual karena jarangnya berinteraksi dengan orang lain (teman sebaya). Ada kemungkinan anak akan mengalami kesulitan bersosialisasi. Jarang mau bekerjasama, kurangnya rasa kepedulian dan tidak mau berbagi.

Selain itu, anak akan malas untuk bergerak. Sepanjang hari hanya asyik bermain gadget. Padahal di usia mereka, masih perlu banyak bergerak. Anak perlu menggerakkan tubuh. Hal ini berguna bagi perkembangan motorik kasarnya. Berlari, mengayuh sepeda, melompat. 

Dalam memilih permainan, orang tua diharapkan agar lebih selektif. Dan juga upayakan untuk membatasi waktu anak dalam menggunakan gadget. Buat perjanjian dengan anak. Misalnya sehari hanya boleh bermain gadget satu jam saja. Sisanya mereka bisa bermain dengan teman-teman di luar rumah. Jangan terlalu sering melarang untuk bermain bersama teman-temannya. Biarkan anak mengeksplorasi dunianya. Namun orang tua tetap harus mengawasi. Tidak boleh juga memberi kebebasan tanpa adanya pengawasan. Yuk, ijinkan anak bermain bersama teman-teman. Karena ada kebahagian tersendiri saat mendengar tawa ceria mereka ^_^   

7 Mar 2016

Tua, Aku Mau Belajar



Hari ini Eno, keponakan saya menginap (lagi) di rumah. Ada sesuatu yang berbeda, nih. Biasanya sehabis mandi, Eno mantengin tipi. Nonton film-film kartun kesayangannya. Kalau sudah habis tontonan film kartun di stasiun tipi. Lanjut nonton DVD. Mc Queen, si mobil balap merah, salah satu karakter kesukaannya. Ngga ada bosennya. Bisa diulang berkali-kali. Ampuun, deh. Eno bahkan sampai hapal tiap adegan ^_^

Lalu apa yang beda?

1 Mar 2016

Segera Kembalikan


Roma Pakpahan - Sore  ini hujan deras sekali. Panah-panah air hujan berkejaran turun membasahi tanah. Saya dan adik dimintai tolong oleh ibu untuk mengambil pesanan kue untuk acara doa malam ini. Acara akan dimulai pukul 19.30 WIB. Namun belum ada tanda-tanda hujan akan reda. Saya lirik ke dinding, sang waktu menunjukkan pukul 18.00 WIB. Berarti kami hanya memiliki sedikit waktu untuk menyiapkan hidangan. Mau tak mau, kami harus menerabas derasnya hujan. Saya baru teringat, salah satu jas hujan belum dikembalikan. Tepatnya 2 bulan yang lalu, ada teman yang meminjam tetapi belum juga menggembalikannya. Sudah beberapa kali saya mengingatkannya agar jas hujan tersebut segera dikembalikan. Tetapi hingga hari ini belum juga dikembalikan. Padahal jas hujan tersebut sangat dibutuhkan dalam keadaan cuaca seperti saat ini.

3 Feb 2016

Duh, Si Kecil Berkelahi



Jam dinding menunjukkan pukul 10.55 WIB. Lima menit lagi, waktunya Eno pulang sekolah. Saya bergegas meluncur ke tekape. Jarak sekolah dari rumah hanya sekitar 50 meter. Sebenarnya bisa dicapai dengan jalan kaki. Tapi segan rasanya harus berjalan kaki di bawah terik matahari *bakal meleleh*. Hihihihi. Sesampai di sekolah, kelas belum bubar. Nunggu deh. Sekitar 10 menit nangkring di motor, pintu kelas Eno pun akhirnya terbuka. Yes! Saya berdiri untuk menyambut Eno. Satu, dua, tiga, …, belum juga muncul ponakan yang imut-imut. Tak berapa lama kemudian, muncullah Eno. Tapi … Ada apa, nih? Langkahnya lemas dan wajah cemberut. Tidak seperti biasanya, ceria. Pasti ada sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi. Saya segera menghampiri Eno. Sebelum saya sempat bertanya, Eno telah lebih dulu bercerita. Ternyata tadi Eno berkelahi dan kakinya luka. Terjatuh di dorong teman.

Itu sepenggal cerita tentang Eno.

Mungkin ada diantara anak atau ponakan teman-teman yang berkelahi di sekolah. Selidik punya selidik, ternyata Eno meniru adegan-adegan yang ditayangkan di televise. Hemmm. Saat ini memang banyak tayangan anak yang menawarkan adegan perkelahian. Anak-anak pun meniru adegan tersebut. Anak tidak tahu, ada bahaya mengintip di balik adegan perkelahian tersebut.

Tugas ayah, bunda, nenek, kakek, om, maupun tante untuk mendampingi si kecil saat menonton. Beri penjelasan pada anak, bahwa adegan-adegan tersebut tidak baik untuk ditiru. Berbahaya. Beberapa waktu lalu. Ada salah seorang murid bimbel saya yang bermain meniru adegan tokoh super hero idolanya. Naasnya, murid saya tersebut mengalami patah tangan dan ia tidak masuk sekolah selama satu bulan. Karena harus menjalani perawatan medis yang cukup serius.  

Anak memang tidak bisa di larang. Semakin di larang, semakin tinggi rasa ingin tahunya (dibaca: penasaran). Anak justru merasa tertantang untuk melakukannya. So, hindari kata jangan saat memberi penjelasan pada anak. Misalnya jangan lari, nanti jatuh. Bisa diganti dengan kalimat jalannya hati-hati supaya tidak jatuh. Pilih kata-kata yang tidak menimbulkan rasa penasaran anak. Tetapi bukan berarti orang tua harus mengekang anak. Biarkan anak bereksplorasi. Karena saat itu anak belajar.





Yippee!!!
rOMa Pakpahan