3 Sep 2016

Pertemuan Tak Terduga



“Ngga nyangka gue. Kita bisa ketemu lagi,” ujar Lina pada Winda, sahabatnya.

“Iya. Gue seneng banget,” seru Winda tak kalah senang.

Sore itu, di tengah derasnya hujan yang membasahi kota Karang, Lina memilih untuk berteduh di sebuah kafe. Tak disangka, ia bertemu dengan seseorang yang selama ini amat dirindukannya. Perjumpaan yang tak terduga. Mengharukan. Akhirnya, setelah sekian tahun berpisah, sang waktu pula yang mempertemukan kembali kedua sahabat itu. Mereka larut dalam pelukan hangat.

Obrolan mengalir deras. Banyak cerita yang terlewatkan. Terakhir mereka bertemu saat acara perpisahan SMA beberapa tahun lalu.

“Lu, inget ngga kejadian ketika gue dihukum pak Slamet karena saat beliau menjelaskan rumus matematika yang ruwet, gue justru asyik nulis puisi untuk nembak Doni?” tanya Lina.

“Masih dong. Berani bener lu. Pasang muka bloon pula. Ngga ngerasa bersalah gitu. Salut gue.”

Lina dan Winda tertawa bersamaan. Kenangan masa indah SMA berputar di kepala mereka masing-masing. Kedua sahabat itu seakan sedang berjalan dalam lorong waktu.

“Eh, gimana kabar Dimas, ya?” Si kutu buku culun super norak. Kasian banget wanita yang jadi istrinya. Itu juga kalau ada yang mau sama dia. Atau si wanitanya emang ngga punya pilihan lagi. Alias ngga laku,” ujar Lina dengan tertawa lepas.

Winda yang duduk tepat di depan Lina hanya diam saja. Ada perubahan air mukanya. Namun Lina tidak menyadari itu. Ia masih tertawa terpingkal.

“Kok lu diem aja, Win? Apa ucapan gue ada yang salah, ya?” tanya Lina bingung.

“Gue wanita yang lagi lu bicarain,” jawab Winda datar. Wajahnya terlihat muram.

“Maksud lu?”

“Iya. Gue istri Dimas. Si kutu buku culun super norak itu.”

“ … “

- The end -
 
Rencananya sih mau nulis cerpen, tapi entah kenapa justru jadi flash fiction ini. Semoga menghibur ^^


Salam Fiksi,
~RP~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih untuk beringan hati memberikan komentar :)