5 Des 2018

Ibu, Ayo Bijak Konsumsi Susu Kental Manis (SKM) Demi Terwujudnya Indonesia Emas 2045


Saat genap berusia 100 tahun nanti, Indonesia akan mendapat bonus demografi. Pada tahun 2045, 70 persen jumlah penduduk berada di usia produktif (15-64 tahun). Itu artinya Indonesia mempunyai ‘harta karun’ yang nantinya bisa menjadi aset untuk kelangsungan hidup banga dan negara di masa yang akan datang. Kondisi ini kemudian memunculkan gagasan tentang GENERASI EMAS 2045. Masalahnya seperti apakah kualitas para calon pemimpin ini nantinya?

Melihat fakta tersebut, dalam rangka Hari Kesehatan Nasional, PP Muslimat NU bekerja sama dengan Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) mengadakan roadshow edukasi gizi di tiga kota. Lampung menjadi salah satu kota yang dipilih. Dan beruntungnya, pada tanggal 29 November 2018 lalu, saya mendapat kesempatan ikut dalam acara talkshow Membangun Generasi Emas Indonesia 2045 dengan tema Cerdas Memilih Pangan Sehat dan Bergizi serta Bijak Menggunakan Susu Kental Manis (SKM). Acara ini bertempat di SKB, Jalan Cut Mutia, Bandar Lampung. Narasumber yang hadir dalam talkshow ini adalah:
  • dr. Lusi Darmayanti, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung.
  • Dra. Syamsuliani, Apt. MM. Kepala Balai BPOM Lampung
  • Dra. Hj. Susiyati, PP Muslimat NU PW Lampung
  • Arif Hidayat, Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI)    
Foto bersama dengan Dr.dr.Hj. Reihana, M.Kes., Kepala Dinas Kesehatan Prov. Lampung

Pentingnya asupan nutrisi sehat dan seimbang

Memberikan nutrisi sehat dan seimbang merupakan salah satu faktor penting yang perlu mendapat perhatian khusus untuk mewujudkan terciptanya Generasi Emas 2045. Konsumsi pangan yang berkualitas diharapkan dapat mengatasi permasalahan malnutrisi yang saat ini sedang dialami Indonesia.

Bu, anaknya kok kurus? Kurang gizi tuh. Anak saya dong gemuk. Tandanya sehat.

Hei, anak gemuk belum tentu sehat, loh! Sebaliknya anak kurus juga belum tentu kurang gizi.  Masih ingat dengan Arya Permana? Kasus obesitas anak yang sempat viral beberapa waktu lalu. Di usia Arya yang masih 10 tahun namun berat badannya mencapai angka 190 kg. Atau yang baru-baru ini diberitakan, Silvia Dwi Susanti, gadis berusia 15 tahun ini berat badannya mencapai 179 kg. Arya dan Silvia terpaksa putus sekolah karena mengalami kesulitan untuk beraktivitas.


http://www.femina.co.id/

Anak yang mengalami obesitas ketika mereka dewasa nantinya rentan terhadap penyakit tidak menular seperti, diabetes, jantung, stroke. Dalam kondisi seperti itu, tentu tidak akan produktif malah justru akan menjadi beban negara karena meningkatnya biaya kesehatan masyarakat. Lalu bagaimana bisa tercipta generasi emas yang berkualitas?


Hampir 1 abad Ibu Indonesia dikelabui iklan Susu Kental Manis (SKM)

Produk susu kental manis sudah dikenal di Indonesia sejak 96 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1922. Dan tetap eksis hingga saat ini.

Kenapa sejak dulu susu kental manis (SKM) begitu disukai, terutama anak-anak? Bagaimana tidak, susu kental manis (SKM) adalah perpaduan yang sempurna. Selain enak dan manis, juga menawarkan berbagai nutrisi karena dibuat dengan susu segar. Konsumsi susu kental manis 2 gelas setiap hari kerap diiklankan sebagai kebiasaan baik untuk mendapatkan asupan nutrisi yang maksimal bagi tumbuh kembang anak.

Apakah benar begitu? Faktanya rasa enak dan manis tercipta karena hampir 50 persen kandungannya adalah gula. Meski gula merupakan komposisi utama, hal itu tidak pernah disampaikan dalam iklan. Padahal kadar gula yang tinggi ini sangat bahaya bagi anak. Menurut ketentuan WHO, konsumsi gula maksimal untuk umur 4-6 tahun adalah 40 gram per hari. Dua gelas SKM itu saja sudah melebihi kuota. Belum lagi ditambah gula yang datang dari makanan, seperti biskuit atau permen. Jadi, ajakan untuk minum SKM 2 kali sehari sama saja mengundang diabetes dan obesitas. Selain itu, asupan gula yang tinggi dapat merusak gigi.

Iklan juga membingkai SKM sebagai produk yang aman bahkan sehat jika dikonsumsi anak-anak karena diklaim memberi gizi, tenaga, dan tulang yang kuat. Seolah-olah dapat membantu membangun kecerdasan anak. Faktanya, kandungan protein dan kalsium yang dimiliki SKM lebih rendah daripada susu bubuk atau susu segar. Kesan menyehatkan juga ditonjolkan dalam kalimat-kalimat iklan, seperti “awali dengan segelas nutrisi” dan “anak ayah tumbuh sehat”

Selain itu, iklan juga mengesankan bahwa SKM menciptakan keluarga bahagia dan harmonis. Keluarga selalu digambarkan hangat, sumringah, dan penuh tawa. Penggambaran ini pakai untuk menegaskan kondisi ideal bagi tumbuh kembang anak. Meski berlatar keluarga, anak selalu menjadi fokus utama. Anak digambarkan riang, cerdas dan berprestasi. Anak ideal yang diidamkan oleh setiap orang tua.

Selain anak, ibu juga kerap menjadi fokus iklan SKM. Namun ibu menjalani peran yang berbeda. Ibu digambarkan sebagai pihak yang menangani asupan gizi keluarga. Pesan yang hendak disampaiIkan bahwa ibu yang bertanggung jawab dan ingin membuat anaknya bersemangat, pintar dan berprestasi memilih SKM sebagai asupan gizi.

Materi promosi iklan SKM jelas melanggar etika pariwara yang melarang iklan untuk mengelabui konsumen mengenai kualitas, kuantitas dan bahan serta tidak memuat resiko penggunaan suatu produk. Namun larangan ini tidak digubris. Pemakaian SKM untuk konsumsi rutin di Indonesia pun terus mengalami peningkatan. Persepsi salah tentang SKM yang sudah dibangun puluhan tahun masih bertahan hingga saat ini. Bahkan dengan materi promosi periklanan yang lebih canggih.

Dibuktikan dengan masih seringnya ditemui ibu yang memberikan SKM kepada anak sebagai konsumsi harian. Bahkan ada menjadikan SKM sebagai pengganti ASI. Padahal seharusnya tidak untuk dikonsumsi secara rutin bagi anak di bawah usia 12 tahun.      


Apa sih sebenarnya SKM itu?

Keju, krimer, es krim merupakan produk olahan pangan yang mengandung susu. Dan SKM merupakan satu dari sekian banyak jenis produk susu olahan tersebut. Menurut BPOM, susu kental adalah susu yang diperoleh dengan cara menghilangkan sebagian air dari susu.

Susu segar yang diproses sedemikian rupa sehingga menjadi kental kemudian ditambahkan gula yang kemudian menghasilkan susu yang sangat manis. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Susu Kental Manis (SKM). Fungsi gula tersebut selain sebagai cita rasa juga sebagai pengawet. Sehingga SKM bisa disimpan lebih lama tahan dibandingkan susu cair lainnya.

Pertanyaannya, apakah SKM adalah susu? Bukan! SKM adalah satu produk olahan berbahan dasar susu. Ya meski terpenuhi karakteristik dasar susu yaitu, mengandung lemak susu dan protein. Namun dengan kadar yang sangat rendah sehingga penggunaannya harus diatur.

SKM aman untuk dikonsumsi sebagai pelengkap sajian. Enak dijadikan topping makanan atau minuman, seperti jus, kue, es buah, dll. Bukan untuk dikonsumsi balita dan anak sebagai pengganti untuk pemenuhan gizi.


SKM sebagai topping makanan
  

Larangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)

BPOM pun mengambil tindakan dengan mengeluarkan surat edaran pada Mei 2018 tentang label dan iklan pada produk SKM dan analognya.

Dalam kemasan produk SKM, tidak boleh menampilkan anak di bawah usia lima tahun dalam bentuk apapun. Masyarakat Indonesia yang masih kurang peduli pada label produk, dikhawatirkan jika melihat gambar balita di kemasan produk SKM maka berasumsi bahwa produk tersebut aman bagi balita.

Dilarang menggunakan visualisasi gambar susu cair dan/atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman. Hal ini dilakukan untuk menghindari persepsi konsumen bahwa SKM adalah susu yang layak dikonsumsi secara rutin.

Khusus untuk iklan, dilarang ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak.

BPOM mengharapkan agar konsumen teliti sebelum membeli produk tertentu. Salah satu caranya dengan membaca label. Bagi produsen label digunakan sebagai media promosi. Sedangkan bagi konsumen, label merupakan media informasi tentang produk, seperti kode produksi, tanggal kadaluarsa, komposisi, cara pemakaian, petunjuk peyimpanan, saran penyajian, usia pemakai. Artinya label merupakan media komunikasi antara produsen dan konsumen.



Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi terbaik

Dibandingkan susu merek termahal sekalipun, gizinya tetap tidak tertandingi dan tidak mengenal tanggal kadaluarsa. Pada saat ibu memberikan ASI kepada anaknya, saat itulah terbangun hubungan emosional antara ibu dan anak. Usahakan sebisa mungkin, untuk memberikan ASI ekslusif minimal 6 bulan.


Kesimpulan

Mari kita bersama menyelamatkan Generasi Emas 2045 demi kelangsungan bangsa Indonesia. Jangan sampai kita terjajah untuk kedua kalinya. Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki bangsa ini jika tidak dibarengi dengan sumber daya manusia berkualitas maka akan sia-sia. Tugas kita bersama menyiapkan generasi penerus yang berkualitas. 

Dimulai dari lingkup kecil, yaitu keluarga. Nah, ibu bijaklah konsumsi susu kental manis (SKM) demi terwujudnya Indonesia Emas 2045. Ya, tanggung jawab untuk mewujudkannya tidak hanya di pundak ibu. Seluruh stakeholder berperan penting, baik pemerintah, legislatif, corporate, LSM, dan juga media. Di sini media memegang peranan penting dalam menyampaikan sebagai penyampai informasi kepada masyarakat. 
   
#SaveGenerasiEmas


Salam,

~RP~

6 komentar:

  1. Emang ngeri banget kalau ada anak yang sudah terlanjur obesitas. Sedih karena bakal banyak penyakit yang akan datang. Semoga dengan edukasi bijak SKM bisa banyak masyarakat lebih waspada

    BalasHapus
  2. SkM itu multifungsi ...
    Menurut aku , pakai skm lebib bagus dari pada lain nya ...
    Rasa majis nyabjuga pas ,, gg berlebihan , aman buat anak anak

    BalasHapus
  3. Kalau aku SKM cuma buat pelengkap kalau bikin milk tea, jus atau pisang bakar coklat. Kalau untuk diminum gak sih :)

    BalasHapus
  4. pernah denger kalo SKM itu komposisinya lebih banyak gula daripada susunya. Ya opercaya karena rasanya manis banget. Nggak kebayang kalo dikonsumsi anak-anak di bawah usia 5 tahun tiap hari itu artinya kan numpuk gula :(((

    Kurang-kurangin deh ya buat kita yang dewasa konsumsi SKM juga.

    BalasHapus
  5. Jujur aja aku kaget loh mb begitu tau ada yang make skm ini buat pengganti asi.. Sedih.. Soalnya aku pernah ngasih anak kucing skm.. Gak lama trus mati.. Mungkin diared. Hiks

    BalasHapus
  6. Aku emang sebelum tau skm ini gak setara susu emang gak suka, sebab terlalu manis. Opsinya kalo bikin makanan pake skm dan gak pake gula atau sebaliknya.

    Sayangbya kebanyakan warga di kampung masih beranggapan bahwa skm ini ya susu. Kan sedih

    BalasHapus

terima kasih untuk beringan hati memberikan komentar :)