1 Feb 2016

Tam-tam



Tam-tam adalah seekor anak gajah. Ia memiliki tubuh yang besar dan kuat. Hal itu membuatnya menjadi gajah kecil yang sombong. Tam-tam merasa dirinya yang paling hebat diantara teman-temannya. Saat bermain, Tam-tam ingin selalu menjadi pemimpin. Ia pun mengatur teman-teman sesuka hatinya.
“Tam-tam, gantian dong. Aku dan teman-teman yang lain juga ingin menjadi pemimpin” ujar Mobi monyet.
”Kalian tidak cocok jadi pemimpin. Lihat badan kalian kecil dan lemah. Sedangkan aku besar dan kuat. Tentunya aku lebih cocok untuk jadi pemimpin kalian,” jawab Tam-tam dengan sombong.
”Kalau begitu, aku tidak mau bermain. Lebih baik aku bermain sendiri saja,” kata Mobi kesal.
Mobi segera menjauh dari teman-temannya. Tak lama kemudian, Mobi pun telah asyik bergelantungan di pohon.
Semakin hari, teman-teman Tam-tam semakin berkurang.
”Lho, teman-teman yang lain mana? Kenapa sekarang sedikit sekali yang datang untuk bermain?” tanya Tam-tam bingung.
”Mereka tidak suka karena kamu tidak pernah mau mengalah. Kamu selalu ingin jadi pemimpin dan selalu saja mengatur,” jawab Tiko jerapah.  
Tam-tam merasa jengkel mengetahuinya. Tam-tam memikirkan suatu rencana.
”Teman-teman, hari ini aku mengumpulkan kalian di sini karena ingin mencari tahu siapa yang terhebat diantara kita. Siapa yang dapat mengalahkan aku maka berhak menjadi pemimpin diantara kita,” kata Tam-tam lantang.
Teman-teman Tam-tam tidak ada yang berani maju.
”Aku mau mencoba.” kata Tiko rusa.
Tetapi dengan mudah Tam-tam dapat mengalahkan Tiko.
”Ayo siapa lagi yang ingin mencoba melawanku?” tantang Tam-tam.
”Beri aku kesempatan untuk mencoba,” ujar Zig zebra maju menghadapi Tam-tam.
Sama seperti sebelumnya, Tam-tam dapat dengan mudah mengalahkan Zig.
”Aku juga mau mencoba,” ujar Siba singa.
”Kali ini terjadi pertandingan yang seimbang. Tetapi akhirnya Tam-tam juga yang menjadi pemenang.
”Siapa lagi yang ingin mencoba mengalahkan aku?” seru Tam-tam semakin sombong.
”........” teman-teman Tam-tam terdiam. Tak ada lagi yang berani menerima tantangan dari Tam-tam.
Ayo siapa lagi yang berani mencoba?” tanya Tam-tam kemudian.
”Boleh kami mencoba?” tiba-tiba muncul suara memecah keheningan.
Semua mencari asal suara itu. Ternyata berasal dari para semut merah.
”Jangan bercanda. Kalian begitu kecil mana mungkin bisa mengalahkanku” seru Tam-tam angkuh.
”Kami tetap mau mencoba. Walau badan kami kecil, kami tidak merasa takut,” jawab ratu semut tegas.
”Baiklah kalau itu mau kalian,” jawab  Tam-tam sombong.
Ratu semut segera mengajak pasukannya. semua naik ke badan Tam-tam. Bahkan ada beberapa yang masuk ke telinga Tam-tam. Tam-tam merasa seluruh tubuhnya gatal dan sakit. Tam-tam tak tahan lagi.
”Cukup. Kalian semua turun dari badanku,” teriak Tam-tam.
”Tidak bisa. Pertandingan belum selesai,” seru ratu semut yang tepat berada di telinga Tam-tam.
”Baiklah aku menyerah kalah. Tolong turun dari badanku,” Tam-tam memohon.
Kini Tam-tam sadar bahwa tubuh yang kuat dan besar bukanlah sesuatu untuk disombongkan.
”Teman-teman, aku minta maaf. Selama ini selalu mau menang sendiri. Masih maukah kalian menjadi temanku?” tanya Tam-tam tulus.
”Kami mau kok menjadi temanmu, Tam-tam. Asal kamu mau berubah,” jawab Mobi mewakili teman-temann yang lain.
Mereka pun kembali berteman. Mulai saat itu, tidak ada lagi Tam-tam yang sombong dan mau menang sendiri.




#OneDayOnePost
#HariKelimbelas
#ToplesAksara


Yippee!!! 
rOMa Pakpahan

2 komentar:

  1. Ceritanya bagus, Mas. Sederhana tapi penuh makna

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, mas Resa. But I am still female, lho ☺

      Hapus

terima kasih untuk beringan hati memberikan komentar :)