3 Mar 2022

Jadi Youtuber Berbahasa Daerah Memang Bisa Sukses? Bisa dong!


Indonesia sebagai negara kepulauan kaya akan budaya, tradisi hingga bahasa daerah. Bahkan terdapat provinsi yang memiliki lebih dari satu bahasa daerah. Menurut inormasi yang saya dapatkan dari website Merajut Indonesia, terdapat 718 bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia. Hebat banget ya Indonesia!

Namun sayangnya, generasi muda saat ini, mengesampingkan bahasa daerah. Ada sebagain orang yang merasa malu untuk berbahasa daerah. Anak-anak muda justru merasa lebih keren jika menggunakan bahasa asing dalam percakapan mereka sehari-hari. Lama kelamaan bahasa daerah ini akan tersingkirkan bahkan bisa saja punah karena tidak dijaga kelestariannya.

Salah satu cara memperkenalkan bahasa daerah bisa melalui media sosial, seperti kanal youtube. Sejak berdiri hingga saat ini, youtube mengalami perkembangan yang begitu pesat. Tercatat lebih dari 20 milyar orang mengunjungi kanal youtube setiap bulannya. Ada lebih dari 100 negara dengan 80 bahasa berbeda telah bergabung dengan youtube.

Profesi youtuber sangat menjanjikan namun persaingan tentunya sangat ketat. Dituntut konsistensi dan memiliki ciri khas agar tetap dapat bertahan. Salah satu ciri khasnya seperti menggunakan bahasa daerah dalam menyampaikan isi konten.

Pada hari Minggu, 27 Februari lalu, saya menyaksikan tayangan IG Live Bincang Mimdan #4 @merajut_indonesia yang mengangkat tema, Jadi Youtuber Berbahasa Daerah Memang Bisa Sukses? dengan mengundang Uni Nadia Nesa, salah seorang youtuber Indonesia yang konsisten menggunakan bahasa Minang dalam kanal youtube­-nya. Tema ini sengaja diangkat karena pada tanggal 21 Februari lalu merupakan hari Bahasa Ibu Internasional, yang ditetapkan oleh UNESCO pada tanggal 17 November 1999. Bahasa ibu disini merujuk pada bahasa daerah. Bincang-bincang seru ini dipandu oleh Teh Evi Sri Rezeki. IG Live Bincang Mimdan #4 ini diadakan oleh PANDI lewat Program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (Mimdan)

Ada gak nih diantara teman-teman yang bercita-cita ingin menjadi youtuber? Mungkin ini pengalaman Uni Nadia Nesa bisa jadi inspirasi bagi kita untuk mulai membangun kanal youtube berbahasa daerah.

 

Rindu Kampuang

Uni Nadia mulai membangun kanal youtube sejak tahun 2016. Ide awal Uni Nadia membuat kanal youtube ingin menjadikan youtube sebagai tempat untuk belajar bahasa Minang. Pada waktu itu, belum ada content creator yang berbahasa Minang. Tak disangka, ternyata mendapat respon baik dari penonton. Peminat kanal youtube Uni Nadia ini tak hanya orang Minang saja tetapi banyak juga dari daerah atau suku lain yang menonton karena didorong rasa penasaran dengan budaya Minang. Dan semakin menarik karena mengangkat tempat-tempat pariwisata di Sumatera Barat yang belum begitu terekspos, kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, dan juga mengenalkan kuliner-kuliner khas Minang. Melalui kanal youtube ini, Uni Nadia mencoba membantu para perantau mengobati rasa rindu pada kampuang dan mengingatkan kembali akan budaya daerah. Harapannya meski merantau, kita tidak melupakan kampung halaman sendiri.

 

Mencatat Ide

Untuk menjaga kanal youtube tetap disukai oleh penonton, seorang content creator harus kreatif agar isinya tidak membosankan. Tentunya sangat diperlukan ide menarik dalam membuat konten-konten yang fresh dan unik. Ide bisa datang dimana saja dan kapan saja. Ketika ide muncul, Uni Nadia menyarankan untuk mencatatnya agar ide tersebut tidak hilang begitu saja. Sayang dong ya.


Multi Talent

Seorang content creator pemula dituntut untuk serba bisa. Bisa menjadi cameraman, talent, membuat script, membuat bahkan editor video. Rempong ya. Namun ketika sudah serius dan ingin menjadikan youtube sebagai sumber penghasilan, sebisa mungkin mempunyai tim untuk mempermudah proses produksi. Sehingga bisa konsisten untuk menayangkan video-video baru sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan.

 

Harus Paham Bahasa Daerah Yang Digunakan   

Jika ingin menjadi youtuber berbahasa daerah, sebaiknya benar-benar paham dengan bahasa daerah yang digunakan. Bukan sekedar bisa, tetapi tahu penempatannya. Karena di beberapa daerah, ada tingkatan bahasa yang penggunaannya berbeda-beda. Tergantung dengan siapa kita sedang berbicara. Apakah orang yang usianya lebih tua atau teman sebaya. Jangan sampai kita justru menyampaikan informasi yang salah/tidak tepat kepada penonton.   

 

Mengaitkan Bahasa Daerah Dengan Sesuatu Yang Sedang Tren

Menurut pegalaman Uni Nadia, agar kanal youtube berbahasa daerah bisa juga diminati kaum milenial, disarankan untuk mengaitkan bahasa daerah dengan sesuatu yang sedang tren. Misalnya seperti saat ini, tema traveling sedang banyak diminati. Kita bisa membuat video perjalanan dengan menggunakan bahasa daerah yang dikuasai. Uni Nadia mencontohkan buat vlog traveling ke Bali tapi bahasa yang digunakan bahasa Minang. Seru banget kan tuh? Atau bisa juga dengan membuat review film yang sedang hits menggunakan bahasa daerah. Dan tentu jangan lupa untuk tetap mencantumkan subtitle agar penonton paham dengan informasi yang disampaikan.

 

Semoga bisa bermanfaat ya teman-teman!

 

 Jadi Youtuber Berbahasa Daerah Memang Bisa Sukses? Bisa dong!

 

 

 

Salam

~RP~

1 komentar:

  1. Setujuuuu sih. Idenya unik bangettt, dan aku jarang nemuin yg begini. Sebenernya akupun malu Krn ga menguasai bahasa Batak, bahasa daerahku. Tapi aku bisa ngerti, cuma ga lancar aja ngomongnya. Alhasil anak2 pun jadi terbiasa bahasa Indonesia.

    Cuma kalo suamiku, itu dari kecil memang BHS Jawa Ama ortunya mba. Makanya fasih. Cuma sayangnya dia Ama anak2 ngomongnya BHS indinesia juga 🤣. Jadi sama aja, anak2 ga menguasai BHS daerah ortunya.

    Mungkin memang sebaiknya ortu dulu sih yg mengajarkan Yaa, supaya generasi skr jadi terbiasa bicara BHS daerah mereka. Lebih BGS lagi kalo mau menguasai BHS daerah tempat2 lain.

    BalasHapus

terima kasih untuk beringan hati memberikan komentar :)