1 Sep 2017

Jangan Baper! Mending Pantaskan Diri Ajalah Dulu.


Pernah gak sih kamu dikepoin, iya, DIKEPOIN dengan pertanyaan, “Kapan nikah?”  Atau pas datang ke kondangan, tiba-tiba ada yang deketin, terus bisikan kalimat yang makjleb, “Kapan nyusul? Jangan lama-lama lagi lah. Inget umur.

Saya SERING bingitz. Udah kebal malah. Hahaha ^^

Sempat sih baper. Saya pernah curhat di postingan ini : Tuhan Tidak Pelupa! 

Apalagi ketika satu per satu sepupu mulai melangkahkan kaki bersama pasangan menuju altar gereja, mengikrarkan janji suci pernikahan di depan Tuhan. Rasanya itu nyeeeesss banget. Apa yang harus saya lakukan?

Marah?  

Nangis bombay?

Mengeluh?

Mengasihani diri?

Ya kali semua itu bisa merubah keadaan. BIG NO! Karena apa yang terjadi dalam hidup ini semuanya atas kehendak Sang Pemilik Kehidupan. Semua sudah disusun dengan SANGAT baik. Saya yakin, Tuhan akan mempertemukan di waktu yang tepat. Gak terburu-buru. Gak juga terlambat.

Menikah JANGAN karena tren atau gengsi.

Menikah JANGAN karena terpaksa atau dipaksa.

Menikah BUKAN pertandingan, dimana seseorang yang lebih dahulu menikah dianggap lebih hebat.

Menikah BUKAN juga suatu prestasi yang perlu dibangga-banggakan. Apalagi menjadi suatu bentuk kesombongan.

Tunggu …

Saya mengatakan ini bukan karena saya memilih untuk gak menikah loh. Saya hanya gak pengin menjadikan pernikahan sebagai beban. Toh, percuma saya mengeluh. Gak menyelesaikan masalah juga kan?

Nah, sambil menunggu seseorang datang dan mengucapkan mantra romantis, “will you marry me?” mending saya memantaskan diri ajalah dulu. Bahasa kerennya, jadi high quality single gitcu. Iyes, supaya nantinya dapat pasangan yang high quality juga. Bener gak sih? *ngarep* BHAHAHA.

Jangan baper melulu. Rugi ah. Single juga berhak untuk hidup bahagia kok. 

Kira-kira apa aja yang sih yang harus disiapkan seorang high quality single sebelum menikahTema persiapan nikah  ini, sudah dibahas lebih dulu oleh Mbak Faradila Danasworo Putri. Dan saya mencoba untuk membahas dari sudut pandang saya yang masih jomblo single, ya. 

Sebelum mencintai seseorang yang nantinya akan menemani kita menghabiskan sisa umur di dunia ini. Terlebih dahulu kita harus belajar mencintai diri sendiri. Berdamai dengan diri sendiri. Terima kekurangan yang ada dalam diri dengan gak menjadikannya sebagai beban. Sebaliknya, gali potensi diri dan mengembangkannya agar hidup kita menjadi lebih bermakna. Oke, jangan terlalu sibuk meratapi kekurangan sehingga lupa bahwa kita juga punya sesuatu yang positif. Ketika bisa menerima dan mencintai diri kita apa adanya. Kita pun tentunya akan lebih mudah untuk mencintai seseorang dengan tulus. Ibarat lem, ketulusan cinta yang akan mengikat erat hubungan pernikahan.

Sebuah pernikahan perlu didasari komitmen yang kuat diantara kedua pihak. Dalam keadaan terburuk sekalipun, tetap sanggup mengatakan, “Iya, aku bertahan. Mari kita perbaiki.” Disanalah bentuk komitmen pasangan suami dan istri untuk mempertahankan pernikahan mereka. Berdasarkan KBBI, pengertian komitmen adalah perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Untuk itulah perlunya belajar menjaga komitmen sebelum menikah. Gini loh, pernikahan itu gak selamanya 100% bahagia seperti yang diceritakan di dongeng-dongeng. Ada saja permasalahan yang timbul dan jika gak siap, maka pernikahan hanya akan bertahan seumur jagung.

Pernikahan itu mempersatukan dua orang dengan segala perintilannya, paket super duper lengkap. Diantaranya sifat, karakter, kebiasaan, hobi yang tentunya sangat berbeda satu dengan yang lain. Ketika masih single, ada “kebebasan” untuk melakukan apa saja yang menurut  kita benar. Namun dengan menikah berarti seseorang siap jika sewaktu-waktu “kebebasannya” direnggut oleh kepentingan yang menyangkut keluarga. Maka sebelum memutuskan untuk menikah, perlu belajar menahan ego. Sebab saat menikah nanti, seseorang gak lagi memikirkan tentang AKU, tetapi KITA (suami dan istri). Dan untuk membuat keputusan apapun itu, haruslah didasari kesepakatan bersama antara suami dan istri.

Menjadi tua itu pasti, sedangkan menjadi dewasa adalah pilihan. Helooow kitty… kedewasaan seseorang bukan diukur dari umur. Bener banget, gak ada kolerasi positif antara tingkat kedewasaan dan bertambahnya umur. Setiap orang memiliki emosi. Namun yang membedakannya, orang yang telah dewasa memiliki kemampuan mengendalikan emosi. Yes, ketika sudah menikah nanti, dituntut kemampuan untuk selalu bersikap tenang dalam menghadapi sebuah masalah. Gak ada istilah ngambek, marah berlebihan, baper. Jadi yakin udah siap nikah? Belajar mengendalikan emosi aja dulu, yuk!


Belajar mencintai diri sendiri. Belajar menjaga komitmen. Belajar menahan ego. Belajar mengendalikan emosi. Sebenarnya masih banyak lagi yang harus dipelajari sebelum akhirnya seseorang memutuskan untuk menikah. Karena sejatinya pernikahan hanya sekali seumur hidup. JANGAN sampai pernikahan gagal hanya karena “kesalahan” yang sebenarnya bisa diminimalisir sebelumnya. Setuju kan?

Saya memang belum menikah (tetapi jika tiba waktunya, pasti akan menikah ^^). Beberapa hal yang saya dituliskan di atas merupakan sudut pandang saya. Ehm, tepatnya berasal dari obrolan, curhatan, dan apa yang saya lihat. Maafkeun kalau menurut kalian (yang sudah menikah!) apa yang saya tuliskan ternyata ada yang gak sesuai. Yah, nama juga lagi belajar jadi high quality single. Hahahaha.

PS: Untuk high quality single di luar sana, saya tunggu mantra romantisnya, ya *kedipin mata* Hazeeekz ^__^

Oiya tulisan ini lahir (ya kali bayi!) untuk menjawab tantangan CollaBlogging yang diadain Kumpulan EmakBlogger (KEB).  

Semoga bermanfaat untuk kawan-kawan yang juga masih singleHappy reading!




Salam,

~RP~      

10 komentar:

  1. wah...betul banget itu tipsnya..menahan emosi dan mengendalikannya yang penting, apalagi kalau sudah menikah nanti kata-kata yang keluar harus disaring dulu. Belajar seumur hidup😊 Nanti kabar baiknya diposting yaa Mbak Roma😍

    BalasHapus
  2. betul ini tipsnya, menikah itu bukan balapan, bukan hrs cepat, krn setiap orang berbeda jalan hidupnya

    BalasHapus
  3. Makasih kak tipsnya..catet banget nih bagi kita para jomblo haha.

    BalasHapus
  4. saya termasuk kategori orang yang sering dapat ucapan ginian, dan sampae sekarang masih enjawab dengan tenang padahal dalam hape pengen juga. Yah saya setuju dengan mbak bilang, poin paling penting itu adalah mendewasakan diri, di sinilah bisa di katakan seseorang bisa cukup matang menuju jenjang pernikahan.

    BalasHapus
  5. yes! memantaskan diri itu lebih baik. Kalau akhirnya berbuah pinangan itu adalah bonus dari apa yang sudah kita tanam. Kalau saya liatnya kenapa kadang ada ke baperan dengan pertanyaan2 diatas? Karena seseorang itu belum mengenal secara personal.Siapa dirinya.

    BalasHapus
  6. kalau aku sih seringnya ditanya kapan mantu???? disenyumin saja

    BalasHapus
  7. Sukaaak baca ini :) .. Iyalah, drpd mikirin kenapa single tra jd bapwr berlarut2 , mending kita upgrade diri kita sendiri ya mba. Toh kebahagian itu bukan lahir dari pernikahan semata. Ga usah tertekan dengan omongan orang, toh yg akan menikah kita, yg menjalani kita, dan orang2 itu blm tentu mau bantu kalo ternyata ada kenapa2.

    Aku sendiri msh punya bbrp temen yg blm nikah hingga sekarang. Di satu sisi aku jg pgn dia bisa menikah nanti, tapi di sisi lain aku jg happy krn dia yg slalu jd travelmate ku tiap kali jalan :) .. Secara masih single, dia lbh bebas dan ga terikat.

    BalasHapus
  8. nyess banget mbak bacanya.. aku juga sering digituin mbak. Tapi percaya aja sih, ketika kita memantaskan diri, Tuhan juga pasti memberikan jodoh yang pantas di waktu yang tepat :)

    BalasHapus
  9. Betul mak, pernikahan itu bukan kompetisi. Memilih itu mudah tetapi menjalani pilihan dibutuhkan banyak belajar yang mak bilang. Terutama belajar menahan ego :)

    BalasHapus
  10. Belajar mencintai diri sendiri itu gak gampang, termasuk saya. Nggak mudah menerima diri tanpa membandingkan dengan orang lain. Good article :)

    BalasHapus

terima kasih untuk beringan hati memberikan komentar :)