8 Mar 2016

Passion Untuk Menulis



Malam ini, saya menonton acara Hitam Putih. Bintang tamunya dua orang penulis yang sangat menginspirasi. Dee Lestari (penulis novel fiksi ilmiah Supernova) dan Ahmad Fuadi (penulis novel Negeri 5 Menara). Kedua penulis tersebut bercerita bagaimana perjuangan mereka sehingga akhirnya lahir karya-karya luar luar biasa. 

Dee Lestari mulai menyukai dunia kepenulisan sejak kecil. Di usia sembilan tahun, Dee Lestari mempunyai impian, suatu saat buku karyanya bisa dipajang di toko buku. Dan ia tidak hanya menjadikan impian tersebut sekedar mimpi belaka. Dee Lestari mulai berlatih menulis, menulis dan menulis. Awalnya dengan menulis lagu. Di tahun 2001, lahir buku pertamanya. Supernova. Dan karyanya tidak berhenti sampai di situ. Dee Lestari tetap konsisten. Hingga kini telah 15 tahun ia berkarya. Telah 10 buku ditulis dan kesemuanya merupakan buku-buku yang laris manis. Dee Lestari ngga tanggung-tanggung dalam menulis, bahkan ia rela meninggalkan dunia tarik suara yang telah membesarkan namanya. Ia sungguh-sungguh mendalami dunia barunya. Menulis. Namun ia ngga hanya sekedar aji mumpung karena dirinya saat itu seorang public figure. “biarlah kualitas yang berbicara”, kata Dee Lestari. Pesan Dee Lestari bagi penulis pemula, “jadikan menulis sebagai ritual.” Dalam sehari, sediakan minimal waktu 30 menit untuk menulis. Sehingga akhirnya terbentuk kebiasaan menulis.

Tak jauh berbeda dengan Dee Lestari, sejak kecil Ahmad Fuadi juga mulai tertarik dengan dunia kepenulisan. Di usia 13 tahun, Ahmad Fuadi terinspirasi dengan kebiasaan ibunya menulis di sebuah buku. Suatu hari, terdorong rasa penasaran ia membaca buku milik ibunya. Buku tersebut ternyata berisi catatan keseharian ibu, kisah keluarga dan resep masakan. Ya, sebuah Diary. Ahmad Fuadi pun mulai mengikuti kebiasaan sang ibu. Ia mulai menulis apapun yang dianggapnya menarik. Kegiatan sekolah, teman-teman dan kesehariannya. Dari kebiasaan tersebut, akhirnya lahir buku Negeri 5 Menara. Buku yang bercerita tentang semangat seorang pemuda yang berasal dari sebuah kampung di daerah Sumatera Barat yang merantau ke pulau Jawa. Sebuah buku yang menginspirasi. Bahkan buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Dan dijadikan sebagai buku wajib di salah satu univeristas di Amerika. Luar biasa, ya. Dari hasil buah pikir Ahmad Fuadi, tercipta 15 karya buku. Pesan Ahmad Fuadi bagi penulis pemula “menulislah setiap hari untuk melatih otot menulis.” Seperti seorang olahragawan yang selalu berlatih untuk mendapatkan otot (dibaca: tubuh) yang kuat.

Kisah Dee Lestari dan Ahmad Fuadi mengingatkan saya kembali bahwa untuk menjadi “sesuatu” tidak bisa didapatkan secara instan. Butuh perjuangan. Perlu ada proses belajar dan berlatih secara rutin. Ngga ada kata terlambat bagi kita, jika ingin belajar. Bangun dalam diri kita sebuah passion untuk menulis. Karena dengan adanya passion, kita akan tetap semangat walau berada di titik terjenuh sekalipun. Great passion make that impossible can be happen. Yuk, menulis mulai sekarang. Siapa yang tahu, kelak karya-karya kita bisa menginspirasi banyak orang.  


Yippee!!!
rOMa Pakpahan

2 komentar:

  1. Benar Mba Roma...semua butuh proses dan latihan. Bersama ODOP saya benar-benar belajar disiplin. Disiplin dalam menulis. Karena selama ini hanya suka saja. Sedang menulisnya bisa kapan-kapan. Setelah membaca ini jadi tambah semangat...hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo menulis. Bebaskan imajinasi ^_^

      Hapus

terima kasih untuk beringan hati memberikan komentar :)