9 Mar 2016

Gerhana Matahari di Langit Liwa



“Besok kan libur. Tapi jangan lupa bangun pagi,” kata Sandro.
“Memangnya ada apa?” tanya Davin.
“Besok ada gerhana matahari total. Mulai jam 6.30,” lanjut Sandro semangat.
Topik mereka tentang gerhana matahari total pun berlanjut dan ditimpali teman yang lain.

Begitu lah obrolan beberapa adik-adik kemarin sore di sela-sela belajar. Betapa antusiasnya mereka membahas tentang gerhana matahari total. Apa sih gerhana matahari total itu? Sebuah fenomena alam yang berlangsung 350 tahun sekali. Keadaan dimana matahari, bulan dan bumi berada dalam posisi satu garis. Kalau menurut cerita jaman dahulu, peristiwa gerhana matahari terjadi karena raksasa hendak memakan matahari. Dan penduduk akan membuat suara-suara riuh dengan harapan membuat raksasa tersebut terganggu dan ngga jadi memakan matahari.   

Keesokan pagi.

Saya bangun dengan semangat. Penyebabnya? Karena saya penasaran dengan gerhana matahari yang kemarin sore menjadi perbincangan hangat adik-adik di kelas. Saya sebenarnya tak kalah antusias dengan mereka. Tetapi kemarin cukup di simpan dalam hati saja. Malu kalau ketahuan kak Roma juga kepo. Hahahahaha.

Jam 5.30 di luar masih sangat gelap. Udara dingin dan berkabut tak menghalangi niat saya untuk melihat fenomena alam yang beberapa hari terakhir ini menjadi buah bibir masyarakat Indonesia. Gelap mulai beranjak berganti terang. Namun langit tampak mendung. Sekeliling saya masih diselimuti kabut cukup tebal. Sang mentari tampak malu-malu menampakkan sinarnya. Saya masih setia menunggu. Namun belum ada tanda-tanda apapun. Memang menurut informasi, hanya empat wilayah yang akan mendapat gerhana matahari total (disingkat: GMT). Belitung, Palembang, Ternate dan Palu. Merasa dekat dengan Palembang (saya tinggal di Lampung Barat), setidaknya bisa melihat gerhana matahari walaupun ngga total *ngarep*. Oiya, kita yang tinggal di Indonesia sangat beruntung, lho. Karena Indonesia merupakan satu-satunya wilayah berupa daratan dimana dapat melihat fenomena gerhana matahari total.

Jam 6.30 mulai terlihat tanda-tanda GMT. Yeess. Saya memanggil adik saya untuk menemani. Ngga pede. Karena hanya saya sendiri yang tampak rempong berdiri di halaman rumah, menatap ke arah terbitnya matahari. Tetangga seakan tidak ada yang peduli. Perlahan mulai tampak bayangan bulan menutupi matahari. Saya dan adik mengabadikan momen tersebut. Walau hanya dengan kamera saku berlensa sederhana. Kami berhasil mengabadikannya. Yippee!!!
Beberapa stasiun televisi pun menayangkan secara langsung peristiwa tersebut dari empat titik gerhana matahari total. Euphoria GMT ternyata berpengaruh juga pada sektor pariwisata.Tak hanya masyarakat Indonesia yang memadati keempat titik tersebut. Bahkan dari beberapa negara lain pun tak mau ketinggalan. Ada pesan penting dibalik peristiwa langka ini. GMT tidak hanya sebagai wisata semata. Namun lebih dari itu. Harapannya dengan fenomena ini, masyarakat Indonesia (terutama generasi muda) semakin terpanggil untuk mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), khususnya di bidang astronomi. Kenapa IPTEK begitu penting? Karena ilmu pengetahuan sangat membantu dalam kehidupan peradaban manusia. Ilmu pengetahuan bersifat abadi dan dapat diwariskan bagi kehidupan ratusan tahun kemudian. So, mari kaum muda bergandengan tangan, bersama mengembangkan IPTEK demi kehidupan yang lebih baik.

Demikian sekelumit cerita saya tentang Gerhana Matahari di langit Liwa. Terima kasih untuk membaca.     


Yippee!!!
rOMa Pakpahan

2 komentar:

  1. amiin semoga generasi muda (seperti saya :D) terus semangat mengembangkan IPTEK demi kehidupan yang lebih baik..^_^ salam kenal mbak roma..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mbak Sasmitha :)
      Senang bisa berkenalan dengan generasi muda yang punya semangat untuk selalu belajar ^_^

      Hapus

terima kasih untuk beringan hati memberikan komentar :)