18 Feb 2016

Cerita Dibalik Secangkir Teh



Pria tua itu muncul lagi di warung mbok Minah. Duduk di tempat yang sama, meja dan kursi di sudut warteg. Seorang pria berusia sekitar enam puluh lima tahun, dengan rambut berhias uban. Pria tua itu betah duduk berlama-lama sambil menikmati secangkir teh hangat di warteg mbok Minah. Teh racikan warisan kakek mbok Minah ini, tiada tandingannya di kampung Jati Mulyo. Rasanya khas.

Mbok Minah memiliki banyak pelanggan setia. Tapi pria tua itu, sedikit berbeda. Jarang berbicara. Lebih banyak berdiam diri, memandangi sebuah foto, sambil sesekali menyeruput teh. Terdorong rasa penasaran, suatu kali mbok Minah menanyakan perihal foto tersebut. Tapi sayang, pria tua itu hanya tersenyum. Sejak saat itu, mbok Minah menyimpan dalam-dalam rasa penasarannya. Sepertinya si pria tua tidak ingin ada orang yang mengusik kehidupan pribadinya.

Waktu terus berputar.

Pria itu tetap setia datang untuk menikmati teh ala warteg mbok Minah. Namun hari ini, seperti ada yang kurang pas. Sang penunjuk waktu sudah berdentang sebanyak dua belas kali. Pria tua itu belum juga muncul. Biasanya ia datang pukul sepuluh. Lalu pulang pukul dua belas, setelah makan siang.

Kemarin, saat sedang membersihkan warung, tak sengaja mbok Minah menemukan selembar foto lusuh. Warnanya mulai kekuningan. Foto sepasang pengantin yang tampak bahagia. Sepertinya milik si pria tua. Mbok Minah menyimpan dan bermaksud untuk memberikannya kepada si empunya. Keesokan harinya, kursi favorit pak tua itu tetap kosong. Setiap hari mbok Minah menunggu kedatangan pak tua itu. Tiga hari berlalu, si pak tua belum juga muncul.

Hingga pagi itu datang sepasang suami istri. Dari penampilannya, tampak berasal dari kota. Mereka memesan teh dan beberapa kue jajanan pasar. Tak lama kemudian mereka larut dalam obrolan. “Pa, coba lihat. Ada foto ayah dan ibu. Kok bisa ada di sini, ya?” tanya sang istri penasaran. Untuk mendapatkan jawaban, sang suami menghampiri mbok Minah yang sedang duduk di belakang meja kasir.
“Maaf, kalau boleh tahu. Ibu mengenal ayah dan ibu saya?” tanya sang suami sambil menunjuk foto yang terselip di dinding warteg yang terdiri dari susunan kayu.
“Saya tidak begitu kenal. Tetapi pria pemilik foto ini, pelanggan setia teh di warteg ini.” Mbok Minah menyerahkan foto tersebut.
“Oh. Pria itu ayah saya. Dan ini foto pernikahan ayah dan ibu. Mereka berasal dari kampung ini. Tetapi sejak ibu meninggal, beberapa tahun lalu. Ayah tinggal bersama kami di kota. Menurut cerita ayah, saat masih muda, ayah dan ibu sering berkunjung ke warteg ini. Sekedar mengobrol sambil minum teh. Saya dan istri penasaran. Kami memutuskan untuk mampir ke warteg ini, sebelum kembali ke kota setelah mengikuti acara peringatan empat puluh hari ayah meninggal. Ternyata benar kata ayah, teh di warteg ini sangat enak.”

Mbok Minah tidak terlalu memperhatikan lagi kalimat terakhir yang dikatakan oleh lelaki yang berada di hadapannya. Ia sangat terkejut mendengarnya. “Lalu siapa pria tua yang beberapa waktu lalu sering datang memesan secangkir teh?” gumam mbok Minah merinding.



Yippee!!!
rOMa Pakpahan

2 komentar:

terima kasih untuk beringan hati memberikan komentar :)