18 Mar 2016

Berharganya Sebuah Kepercayaan



Hari Rabu yang lalu, setelah selesai mengajar bimbel. Salah satu orang tua murid mendatangi saya (sebut saja Adit).

“Kak, anak saya sudah selesai belajarnya?”
“Sudah. Bahkan anak bapak sudah pulang 15 menit yang lalu,” ujar saya.
“Tapi belum sampai di rumah, lho. Ngga biasanya. Jadi saya jemput.” 

Kebetulan antara tempat bimbel dan rumah Adit hanya berjarak sekitar 500 m. Jadi ngga mungkin sampai memakan waktu 15 menit. Apalagi Adit mengendarai sepeda. Ayah Adit kemudian berpamitan. Mau mencari Adit.

Pagi ini, ada jadwal bimbel Adit. Ada sedikit yang berbeda. Adit diantar ayahnya. Saya bertanya-tanya. Ada apa? Karena sebelumnya, Adit selalu mengendarai sepedanya. Saya penasaran.

“Adit kok dianter? Ngga biasanya,” tanya saya.
“Ayah marah karena saya pulang bimbel langsung main ke rumah teman. Ngga pamit dulu. Jadi sekarang kalau mau bimbel diantar jemput ayah,” jawab Adit malu.
“Lain kali, kalau mau main harus pamit dulu. Tidak baik membuat membuat orang tua khawatir. Dan akibatnya rasa percaya orang tua sama Adit jadi berkurang, deh,” kata saya dengan tersenyum. Agar ngga terkesan menghakimi. Sepertinya Adit cukup menyesali kesalahannya.

Dari cerita di atas, kita dapat satu pembelajaran penting. Betapa berharganya sebuah kepercayaan. Terutama kepercayaan yang orang tua berikan kepada anak-anaknya. Betapa kecewa orang tua saat mengetahui anak ngga menuruti nasehatnya. Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Orang tua ingin anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi berkualitas. Saat melakukan kesalahan, rasa percaya orang tua kepada anak pun berkurang. Dan cukup sulit untuk mengambilkan kepercayaan itu. Yang tadinya mempunyai “kebebasan” kini mau kemana-mana harus dianter jemput. Ngga enak, ya.

Begitu juga saat kita berhubungan orang yang berada di lingkaran hidup kita. Pasangan, sahabat, pimpinan, rekan kerja, klien, tetangga dan siapa pun itu. Kita harusnya bisa menjaga kepercayaan yang telah diberikan. Sebisa mungkin tidak mengecewakan. Ingat, sulit untuk mengembalikan rasa percaya itu. Mungkin untuk sebagian orang, hal tersebut ngga terlalu penting. Perlu diketahui, bahwa apa yang kita lakukan, itulah cerminan diri. Kita akan dinilai sebagai orang yang ngga bertanggung jawab.

Gimana mau mendapat promosi jabatan, pimpinan sudah ngga respect lagi dengan kita. Tiba-tiba sahabat meninggalkan kita. Usut punya usut ternyata karena kita keceplosan menceritakan rahasia sahabat kepada orang lain. Sudah berusaha mengeluarkan berbagai macam jurus untuk merayu klien, tetapi ngga deal juga. Alasannya karena klien sudah ilfeel. Beberapa kali janjian ketemuan, tetapi ngga pernah tepat waktu. Ups.

Jangan sampai hal tersebut terjadi pada diri kita. Yuks, jaga sebaik mungkin kepercayaan itu. Perilaku mencerminkan pribadi seseorang. Pribadi seperti apakah kita?


Yippee!!!
rOMa Pakpahan    

       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih untuk beringan hati memberikan komentar :)