26 Jan 2016

Kata Siapa Membaca itu Cupu?




Ngakunya anak gaul? Tapi ngga suka baca. Ah, justru itu yang ngga keren! Yang ada kudet tuh. Kurang up date. Hihihi. Saya mulai suka membaca sejak SD. Dulu saya paling suka kisah petulangan dan persahabatan. Saya pun jatuh hati pada buku-buku karangan Enid Blyton, terutama Lima Sekawan. Salah seorang tante yang pertama kali memperkenalkan kepada saya betapa asyiknya membaca. Saat berulang tahun, buku merupakan kado favorit saya.

      Dari kebiasaan membaca ada beberapa manfaat, seperti:  
   
       1. Ngga perlu banyak uang untuk jalan-jalan

2     Benar sekali. Cukup dengan membaca saja, kita bisa jalan-jalan bahkan sampai keliling dunia. Ngga perlu keluar banyak uang deh pokoknya. Tanpa perlu ribet mengurus surat menyurat. Hanya buka halaman buku dan kita pun siap berkeliling dunia. Yippee!!!     
     
        2. Pengetahuan luas 
      Dengan membaca, wawasan yang kita miliki pun luas. Kalau diajak ngobrol, selalu nyambung. Seakan ngga kehabisan bahan obrolan. So, kita terlihat smart,  dong. Asyik, kan ya? Apalagi kalau lagi ngobrol dengan gebetan. Apa ngga makin terpesona tuh si doi. Tambah deh nilai plus kita.

        3. Menjelajah masa lalu
Ngga perlu mesin waktu untuk kembali ke jaman dahulu. Dengan membuka lembar demi lembar buku, kita bisa dengan mudah menjelajah masa lalu, lo. Bisa berkenalan dengan tokoh-tokoh hebat, seperti Soekarno, Moh. Hatta, Albert Einsten. So cool!!! Tanpa harus bertemu langsung dengan tokoh-tokoh hebat tersebut, kita tetap bisa mendapatkan banyak pembelajaran dari kisah hidup mereka.

4.         4. Memperluas pertemanan
Anggapan kalau orang-orang yang hobi membaca itu cupu, salah banget. Sekarang banyak kok berdiri komunitas seru bagi para penggemar buku sebagai wadah berkumpul dan berbagi ilmu. Saat ini, saya menjadi bagian dari StilettoBook Club (SBC). Ada banyak manfaat yang diperoleh. Yang paling saya suka yaitu, dapat diskon untuk setiap pembelian buku. Dasar perempuan ya, suka banget dengan barang-barang diskon. Hahahahaha.

Oiya, saya sedang mengelola sebuah bimbingan belajar yang diperuntukkan bagi siswa SD. Siswanya merupakan anak-anak tetangga sekitar rumah. Saya prihatin melihat buruknya minat baca anak. Mereka lebih suka untuk bermain game online atau gadget. Minat baca anak-anak ini masih sangat minim. Saya pun menyediakan bahan bacaan anak dengan berbagai tema. Seperti keterampilan, petualangan, persahabatan, moral dan pengetahuan. Tak ketinggalan, saya juga berlangganan majalah anak. Saya ingin mereka tidak hanya belajar. Namun lebih dari itu, saya berharap mereka memiliki kecintaan pada buku

koleksi buku bacaan anak

koleksi majalah anak

Awalnya sulit untuk menularkan virus membaca pada mereka. Buku yang saya sediakan tidak disentuh sama sekali *nangis bombay*. Mereka justru lebih tertarik untuk bermain saat break time. Saya tidak mau menyerah begitu saja. Saya pun mencari akal. Di setiap kelas, saya membacakan beberapa cerita dari majalah dan buku-buku yang ada. Pelan-pelan mereka mulai tertarik untuk membaca. Senang banget, lo. Yihaaa!!!

Banyak diantara anak usia sekolah khususnya SD dan SMP di lingkungan tempat tinggal saya yang lebih memilih mengisi waktu mereka dengan bermain game online di warnet daripada berkutat dengan buku. Sebenarnya tidak adil juga sih, jika semua kesalahan dilimpahkan pada anak-anak tersebut. Mungkin saja karena faktor keluarga. Orang tua tidak membiasakan anak gemar membaca sejak dini. Alasannya, orang tua terlalu sibuk sehingga tidak mempunyai waktu yang cukup untuk memperkenalkan buku. Sehingga anak-anak, dimanjakan dengan tayangan-tayangan kartun di televisi.

Atau karena masih kurangnya perhatian pemerintah. Belum tersedianya ruang baca yang nyaman dan buku bacaan yang sesuai dengan usia anak. Justru bertebaran warnet. Berkembang luas seperti jamur di musim hujan. Padahal dibalik asyiknya bermain game online, ada banyak dampak buruk yang tidak disadari orang tua dan anak itu sendiri. Tumbuh budaya kekerasan dalam diri anak. Karena dalam game online lebih banyak disuguhkan adegan kekerasan. Sungguh miris!

Saya tidak memiliki anggaran khusus untuk membeli buku. Karena tidak adanya toko buku di daerah tempat tinggal saya. Butuh waktu sekitar 6-7 jam jika ingin berkunjung ke toko buku. Kebayang dong jauhnya? Namun saat ini, banyak tersedia toko buku online yang membantu orang-orang  seperti saya yang berada jauh dari jangkauan toko buku. Sehingga dimudahkan untuk mendapatkan buku-buku bacaan favorit. Tanpa harus berkunjung langsung ke toko buku, contohnya Stiletto Book. Salah satu, Penerbit Buku Perempuan yang menyediakan buku-buku bacaan berkualitas yang berkaitan dengan dunia perempuan, baik buku fiksi maupun nonfiksi. Tersedia fasilitas pembelian buku secara online.

beberapa koleksi buku umum dengan berbagai tema

Dari pengalaman di atas, suatu saat nanti  saya ingin memiliki taman bacaan khusus anak. Kenapa anak? Karena menurut saya, di usia anak adalah saat yang tepat untuk memulai menularkan virus membaca. Saya ingin menjadikan budaya membaca sebagai bagian dari gaya hidup mereka. Ngga keren kalau ngga membaca. Dengan harapan, kebiasaan membaca yang saya tularkan, akan mereka tularkan juga ke teman-teman mereka yang lain. Kebiasaan baik tersebut akhirnya bisa melekat hingga mereka dewasa kelak. Dan lahirlah generasi muda gemar membaca. Menurut pendapat orang bijak, untuk memulai suatu perubahan besar, mulailah dari lingkup kecil terlebih dahulu. Nah, teman-teman masih malas membaca buku? Justru itu yang cupu. Ngga keren deh ah. Yuuuk bangun book addict mulai lingkup terkecil, yaitu diri sendiri. Agar negeri kita tercinta tumbuh menjadi bangsa yang cerdas 



Yippee!!!
rOMa Pakpahan




Nama    : Roma Pakpahan
Twitter  : @roma_corner
Email    : romaliwa@gmail.com


 



.


 



 




1 komentar:

  1. Hampir mirip dengan cerita saya Mbak...saya juga punya taman baca di rumah :D

    BalasHapus

terima kasih untuk beringan hati memberikan komentar :)