21 Agt 2016

KOPI, AKU DAN AYAH



Dia menggoda. Sangat. Entah mengapa baru sekarang aku bisa menikmati ciptaan Tuhan yang satu ini. Ke mana saja aku selama ini? Ada sedikit penyesalan kenapa tidak sejak dulu aku mengenal dia. Jangan tanya. Aku tidak tahu. Sumpah.

Perkenalan kami berlangsung begitu saja. Tak terencana sedikit pun. Seorang sahabat, Bagas, mengenalkannya padaku. Minggu pagi, aku kebetulan mengunjungi tempat kos Bagas. Sahabatku itu, sedang bersantai ditemani dia. Merasa perlu berlaku sebagai tuan rumah yang baik, Bagas mengenalkan kami. Sejak saat itu, aku jatuh cinta pada dia. Ya, seperti ungkapan abege, jatuh cinta pada pandangan pertama.

Peristiwa penting itu, sudah berlangsung beberapa tahun lalu, saat awal aku kuliah dulu.



Sejak saat itu, hari-hariku pun mulai diisi dengan kehadirannya. Dia selalu ada untukku. Pagi, siang, sore. Dia selalu hadir untuk menyemangatiku. Dia selalu ada dalam berbagai suasana. Bahagia, sedih, galau.    

KOPI. It becomes my mood booster recently.

Seperti siang ini, tiba-tiba saja mood-ku amburadul parah. Semua gara-gara aku baru dapat laporan kalau program andalan di radio tempatku bekerja mengalami kekacauan. Tinggal tunggu waktu sampai aku kena semprot bos besar.

Kalau sudah begini, biasanya satu-satunya hal yang aku lakukan adalah menyendiri sejenak sambil menikmati secangkir kopi. Selain supaya pikiranku lebih tenang, juga menghindari ada seseorang yang menjadi sasaran kekesalanku. Sebelum menyesap, aku menikmati aroma kopi yang menyeruak masuk ke rongga paru-paru. Terjadi sensasi yang luar biasa! Secara ajaib, mood-ku perlahan normal.

Telepon di meja kerjaku berdering. Terdengar suara berat milik Pak Kennedi di seberang sana. Bos besarku itu, memintaku untuk datang ke ruangannya. Dan beruntung aku sudah siap tempur menghadapi pak Kennedi. Terima kasih, kopi.      

Aku, Samuel Hadi. Seorang creative programmer di sebuah radio swasta yang terkenal di kota ini. Pekerjaan yang menuntutku untuk selalu kreatif. Aku harus mempunyai stok ide-ide baru dan segar untuk program radio yang aku handle. Kedai kopi menjadi tempat favoritku untuk menggali ide. Kebetulan stasiun radioku khusus bagi kawula muda. Namanya Gaudiamo. Aku bisa dapat ide-ide segar dari ngobrol dengan sesama pengunjung sambil menikmati secangkir kopi. Atau hanya sekedar mengamati aktivitas para pengunjung yang sebagian besar adalah anak-anak muda.  
    
***

Aku dan Ayah

Di luar hujan turun sangat deras. Siapa pun yang nekat menyusuri jalan di saat seperti ini pasti basah kuyub. Sudah enam tahun berlalu, malam hari, dan juga hujan deras begini, aku keluar rumah dengan marah sambil membanting pintu.

“Aku tahu, ayah memikirkan apa yang terbaik untukku. Tapi aku bukan anak kecil lagi. Kali ini, aku tidak bisa menuruti keinginan ayah. Aku akan tetap pada pilihanku kuliah mengambil jurusan Ilmu Komunikasi.”

“Mau jadi apa kamu, hah!” suara ayah terdengar semakin meninggi.

“Ayah selalu mengajarkanku agar selalu berjuang untuk mempertahankan pendapat, jika memang pendapat itu benar. Dan menurutku, ini merupakan pilihan yang tepat, yah.”

“Ayah tetap tidak setuju. Kamu harus menuruti kata-kata ayah. Ini semua ayah lakukan untuk masa depanmu. Ayah membangun perusahaan ini untukmu, putra tunggal ayah!”

“Maaf. Kali ini, Hadi tidak bisa menuruti kemauan ayah.”

“Baiklah, kalau begitu. Kamu harus berusaha sendiri. Kamu biayai sendiri kuliahmu.”

Ibu yang sedari tadi hanya diam, ikut terlibat dalam perdebatan antara ayah dan aku.

“Hadi, cobalah mengerti. Ayah begitu menyayangimu. Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu, nak.” Ibu mencoba membujuk.

Tapi keinginanku sudah bulat. Malam itu, aku pergi meninggalkan rumah untuk mengejar impianku. Tanpa restu ayah. Dan malam itu juga, untuk pertama kalinya aku menentang ayah. Ibu menangis mengiringi kepergianku. Ayah memarahi ibu yang masih berusaha menahanku.

“Biarkan saja, dia pergi.”  

***

Tanpa sepengetahuan ayah, ibu sesekali mengunjungiku. Bahkan membantuku mengatasi masalah keuangan. Meskipun tak jarang pula aku menolak kebaikan ibu. Sejak keluar dari rumah mewah orang tuaku. Aku harus hidup mandiri dan hemat. Aku bekerja keras untuk menghidupi diriku dan membiayai kuliah. Tak mudah memang bekerja sambil kuliah. Tapi aku harus bertahan. Aku akan buktikan pada ayah bahwa aku tidak salah dalam memilih masa depanku.

Usahaku berbuah manis. Kini impianku telah menjadi kenyataan. Aku lulus kuliah dengan nilai IPK terbaik. Ibu hadir pada acara wisuda sarjana baru. Ibu menangis haru. Aku tahu, saat itu ibu ikut merasakan kebahagiaanku. Dan sekarang, aku bekerja pada bidang yang memang aku sukai. Kehidupanku terasa sempurna!

Hingga sore itu, ibu mengunjungiku dengan wajah sedih.

“Ada apa, bu? Kenapa wajah ibu terlihat begitu sedih?”

“Pulanglah, nak.”

“Apa yang terjadi, bu?”

“Ibu ingin kamu pulang dan berbaikan dengan ayahmu.”

Hening. Aku hanya terdiam. Pikiranku melayang kemana-mana. Yang kubutuhkan sekarang adalah secangkir kopi (lagi). Aku beranjak ke dapur untuk menyiapkan secangkir teh untuk ibu dan kopi untukku.

Aku menghirup dalam-dalam aroma kopi. Aku merasakan ketenangan melingkupi diriku.
“Salahkah aku jika aku ingin mewujudkan impianku, ibu? Salahkah jika dulu aku menentang ayah demi masa depanku. Ibu tahu kan, segala sesuatu yang dilakukan dengan terpaksa, maka tidak akan memberikan hasil yang baik.”

“Ibu hanya tidak ingin kamu menyesalinya kelak.”

“Salahkah kalau sekarang aku kerja mati-matian demi uang, untuk membuktikan pada ayah bahwa aku tetap bisa hidup tanpa harus dibayang-bayangi kekayaan ayah?”

“Ayahmu sekarang mulai sering sakit-sakitan. Menurut diagnosa dokter, ayah terserang kanker paru-paru. Mungkin waktu ayahmu tidak akan lama lagi. Sebelum itu terjadi, ibu ingin keluarga kita utuh seperti dulu lagi.”

Aku kembali terdiam, menatap ke dinding dengan hampa. Aku masih mempertahankan egoku.

“Demi ibu, nak.” Suara ibu terdengar seperti anak kecil yang sedang memohon dibelikan mainan.

“Bu, biarkan aku berpikir dulu.” Aku menyesap isi cangkir kopi. Mencari ketenangan.

“Kamu begitu suka kopi. Tapi kamu tahu tidak, apa artinya menjadi kopi?”

Lagi lagi aku hanya terdiam. Ya, sudah sejak lama aku begitu menyukai minuman hitam manis ini. Namun tak pernah terpikir tentang kopi. Bagiku, kopi itu ada untuk dinikmati. Kopi itu sumber semangatku. Itu saja.

“Telur, kopi dan wortel. Tiga hal yang berbeda. Ketika telur dimasukkan ke dalam air panas, telur akan menjadi sangat keras. Sedangkan wortel, jika dimasukkan ke dalam air panas maka akan menjadi lembek. Nah, air panas itu adalah masalah. Ketika seseorang dihadapkan pada masalah, dia menjadi keras kepala dan tidak bersedia mendengarkan pendapat orang lain, itu adalah ketika kamu menjadi telur. Ketika masalah menjadikanmu orang yang lembek dan justru lari dari masalah, itu adalah ketika kamu menjadi wortel. Tapi kopi… kopi berbeda,” lanjut ibu perlahan. “Ketika bubuk kopi dimasukkan ke dalam air panas, bubuk kopi itu akan larut dan menghasilkan aroma yang harum, rasa yang nikmat.”

Jadilah seperti kopi, yang ketika masalah datang, ia tidak lembek atau keras, tapi ia bisa berpikir jernih, membawa kebaikan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi lingkungan di sekitar.”

Ibu menatapku.

“Dan tak hanya itu, walau kopi terasa pahit, namun tetap banyak orang yang menyukainya. Cintai masalahmu, maka kamu akan mampu mengatasinya.”

“Jadilah kopi untuk ayah dan ibu, nak.”

Aku termenung. Nasihat ibu begitu menyentuh. Rasa marahku pada ayah menguap seketika. Aku menyadari keegoisanku. Tak seharusnya aku seperti ini.

“Maafkan Hadi, ayah.”


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory yang diselengarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com



Salam Fiksi,
~RP~

9 komentar:

  1. pada keren-keren nih ceritanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya ngga pengen ikutan. Ngga ada ide yang nyantol. Tapi temen2 ODOP rame ngebahas lomba ini, eh, jadi tertarik deh. Di detik2 terakhir baru dateng idenya. Untung masih ada waktu ^_^
      Mbak Wiwid ikutan juga kah?

      Hapus
  2. Widiiihhh... Mau jadi kopi ahh...

    BalasHapus
  3. aku pernah baca tentang filosofi telur , wortel sama kopi juga kak, tapi lupa dimana, hehe
    saya dulu juga penikmat kopi, tapi sekarang gak lagi. I miss coffe so much ... T-T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Filosofinya kereeeen!
      Jadi kepikiran kenapa ngga dijadiin cerpen aja, ya. Supaya menginspirasi lebih banyak orang :)

      Hapus
  4. Duhh... pengin deh bisa aktif nulis, kak
    Btw, boleh dong kak dishare kalo ada info kompetisi nulis dan semacamnya. biar tambah semangat, ahay...

    BalasHapus
  5. Baru tahu filosofi kopi yang satu ini :D

    BalasHapus

terima kasih untuk beringan hati memberikan komentar :)