19 Jan 2016

Belajar dari Anak Kecil

Tadi pagi, saya membuka koleksi foto-foto lama. Ingin bernostalgia sembari mencari inspirasi. Stok di keranjang ide mulai menipis nih. Hihihihi. Mata saya tertuju pada sebuah foto saya bersama beberapa siswa TK dimana saya dulu pernah mengajar. Dari wajah mereka terpencar keceriaan. Penuh senyum khas anak-anak.

Berbicara tentang anak-anak, ada beberapa hal menarik yang ingin saya bahas. Terkadang sebagai orang dewasa, kita merasa adalah panutan dari anak-anak. Ternyata dari beberapa sifat dan tingkah pola anak-anak, ada yang bisa kita jadikan sebagai teladan. Tersirat pelajaran berharga, yang bisa kita dapatkan dari mereka.

Teman-teman mungkin masih ingat, di masa kecil seringkali ngotot saat ingin mendapatkan sesuatu. Apapun cara dilakukan terkadang sampai menangis berguling-guling di lantai jika orang tua tidak bersedia membelikan mainan yang sangat diinginkan. Menangis sejadinya hingga orang tua pun akhirnya mengalah agar si anak menghentikan tangisan. Saya pun pernah melakukannya, lo. Hahahaha. Malu deh jika mengingat kembali kejadian tersebut. Saat beranjak dewasa, sifat ngotot tersebut mulai luntur. Yang saya maksud ngotot di sini dalam hal positif. Contohnya, saat kita ingin promosi jabatan. Coba diingat-ingat kembali bagaimana ngototnya si anak kecil berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Si anak akan terus menangis sampai mainan kesukaan berhasil mendarat di tangan mungilnya. Begitu juga dengan kita. Saat ingin promosi jabatan, berusahalah semaksimal mungkin (ngotot) sampai mampu duduk di jabatan yang kita inginkan. Tentunya dengan cara positif, yaitu  memberikan kinerja terbaik. Tidak dengan menyikut teman. Karena kita bukan anak kecil. Kita sebagai orang dewasa sudah memiliki kemampuan untuk berpikir dengan baik. Tuhan memberi keistimewaan bagi orang dewasa untuk membedakan mana hal baik dan mana hal buruk. Ngotot itu ngga salah kok. Tapi ngotot untuk sesuatu yang positif ya.    

Salah satu ciri anak cerdas yaitu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Namun seiring bertambahnya usia, rasa ingin tahu tersebut perlahan mulai luntur. Sekali lagi rasa ingin tahu yang saya bahas adalah rasa ingin tahu yang positif tentunya. Kepo tidak termasuk dalam pembahasan, ya. Sebenarnya kepo timbul karena adanya rasa ingin tahu yang tinggi, namun orientasinya negatif. Di jaman serba instan ini, kita terpola hidup santai. Padahal sifat tersebut sangat merugikan, terutama bagi kita yang sedang mencoba membuka usaha. Jika tidak memiliki keinginan mempelajari lebih dalam tentang usaha yang sedang digeluti, dipastikan akan sulit berkembang. Usaha yang diharapkan maju, justru bisa jatuh bangkrut. Dan kita pun gulung tikar. Kalau sudah begitu bagaimana bisa meraih sukses. So, tetaplah seperti anak kecil yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Sehingga kita akan berusaha untuk terus belajar, belajar dan belajar.

Dan satu hal lagi yang bisa dipelajari dari anak kecil yaitu kejujuran. Kejujuran merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan ini. Namun hal tersebut semakin pudar. Terutama di kota-kota besar.  Saya ingat pada cerita seorang teman. Suatu ketika, di lingkungan tempat tinggalnya ada kerja bakti yang diadakan karang taruna. Ups. Teman-teman tahu kan karang taruna? Tetapi karena malas untuk mengikutinya, ia berpesan pada ponakannya yang masih kecil  jika ada yang menanyakan dirinya, “bilang saja om sedang pergi”. Padahal sebenarnya ia ingin tidur siang. Tak lama kemudian, datang tim karang taruna dan bertemu dengan si ponakan. Dengan polosnya si ponakan pun menjawab, “tadi kata om, om lagi pergi.” Hahahaha ketahuan deh bohongnya *tutup muka*. Ya, anak kecil begitu menjunjung nilai kejujuran. Orang dewasa tanpa sadar mengajarkan mereka untuk berbohong. Yuk, kita bangun kembali menara kejujuran yang mulai runtuh. Jangan sampai sifat jujur hilang dari diri kita. Jangaaaaan!!!


#OneDayOnePost
#HariKetujuh
#ToplesAksara



Yippee!!!
rOMa Pakpahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih untuk beringan hati memberikan komentar :)